Posted by : Yandi Egawa Sabtu, 28 Februari 2015

SEJARAH TEGALLALANG ABAD KE-9


Om Awighnam Astu Namo Siddhyam, Pangaksamaning hulun ri pada paduka Bhatara Hyang Mami, sang ginlaring sarining Ongkara mantram, hreddhaya sunia layam, sidha yogi swaranam, sira sang anugraha ri awak purwanira, sang huwus lepas, lupute ring tulah pamidhi, mwang sawigraha ning mala papa petaka, tan ketaman hulun upadrawa de Bhatara Hyang Mami, wastu paripurna anewaken hayu, dirghayusha katekeng sakula gotra Santana, namastu jagaddhitaya, Om Saraswati Nama Stubhyam //o// Nihan pwa wuwusen maka purwakaning Usana ri unikala, hana sang resi apanelah Sang Hyang Meru, sira ta pinet swari istri listuwayu paripurna… 

Om. Semoga tidak ada halangan atas anugrah mu ya Tuhan, Sembah bhakti hamba ke hadapan Ida Bhatara yang menjadi Tuhan hamba, yang disucikan dalam aksara suci Ongkara Mantram, bersifat kekal, yang menyucikan alam semesta ini, terwujud sebagai Yoghiswara, beliau menganugrahkan tentang keberadaan leluhur kami yang telah mencapai alam kelepasan atau sunia, hindarilah kami dari kutukan serta terhindar dari papa neraka, terhindar dari sodsod upadrawa oleh Tuhan hamba, semoga selalu mencapai kesempurnaan serta keselamatan, panjang umur termasuk sanak keturunan hamba, semoga selalu jaya di dunia, Om Saraswati Nama Stubhyam //o// terkisah diawal purana ini dijaman dahulu, ada seorang resi bernama Sang Hyang Meru, beliau mempersunting seorang istri berparas sangat cantik. 

 Tidak terkisahakan beliau memadu kasih, setelah sekian lama terlahirlah dua orang putra, putra yang pertama diberi nama Sang Ayati, sedangkan adiknya bernama Sang Niyata, keduanya berparas tampan, menguasai ilmu pengetahuan, kaya akan ilmu pengetahuan utama. Dikisahkan sekarang Sang Ayati melahirkan seorang putra bernama Sang Prana, demikian Sang Niyata juga menurunkan seorang putra bernama Sang Markandha. Selanjutnya dikisahkan beliau Sang Markandha setelah cukup umur mempersunting seorang istri utama berparas cantik bernama Sang Manaswini. Terkisahkan sekarang setelah sekian lama hidup ber rumah tangga beliau melahirkan seorang putra bernama Hyang Maha Resi Markhandya. 

Om Pralinggam Urddham Siwadwaram, berwujud aksara suci Ongkara pada alam yang tidak terbayangkan. YaTuhan ku sebagai awal mula sambah hamba terutama pada leluhur, sebagai anak keturunan, karena beliau yang menurunkan wangsa hamba, siapa yang diagungkan disana yaitu dipulau Jawa, mengemban misi beliau, beliau lah leluhur kami dijaman dahulu. Oh Tuhan semoga kami sekalian tidak terkena kutukan, tat kala menguraikan kata-kata semoga sempurna dan panjang umur termasuk sanak keturunan hamba, agar selalu dilimpahkan makanan yang berlimpah, demikian permohonan hamba berakhir. 

Sekarang setelah sekian lama setelah beliau Maha Resi Markandhya perjaka, beliau mempersunting istri bernama Dewi Dumara. Setelah sekian lama memaduk cinta menurunkan seorang putra laki - laki diberi nama Hyang Resi Dewa Sirah. Dalam kurun waktu belakangan beliau beliau Hyang Resi Dewa Sirah mempersunting seorang istri bernama Dewi Wipari, inilah yang banyak menurunkan keturunan. Dikisahkan selanjutnya tersebutlah Sang Ila namanya putra dari Sang Trenawindhu, beliau merupakan murid dari Sang Hyang Maha Resi Agastya, yang tinggal dipulau Jawa, selanjutnya menurunkan Sang Sapta Resi sampai sekarang. Sang Aridewa dan Sang Anaka melakukan yoga pada pegunungan Dieng Jawa Tengah dan beliau Maha Resi Markandhya bertapa digunung Damalung di pulau Jawa. Ada bisama beliau Maha Resi Agastya, seperti yang tersebut dalam prasasti Dinaya, kata beliau : Ra Adnya Agastya(Aku Agastya), tepat pada tahun saka 682 sasih kalima, beliau Maha Resi Agastya mengeluarkan bhisama (tahun saka 682 masehi = 760 masehi, kalima = sekitar bulan Oktober sampai November) tat kala itu beliau menyebarkan paham Tri Murti Paksa di tanah Nusantara. Tri Murti Paksa itu tiada lain adalah penyatuan paham Siwa Paksa, Brahma Paksa dan Waisnawa Paksa (Wisnu) paham itulah yang terutama dikembangkan ditanah Jawa dan pulai Bali. Setelah sekian lama beliau Sang Hyang Resi Agastya bergelar Sri Bhatara guru. Demikian banyaknya para yogi dijaman dahulu di pulai Jawa, menyebar ke desa- desa di Bumi Indonesia (Nusantara) termasuk ke pulau Bali dan ada juga tetap tinggal di pulau Jawa.

Setelah sekian lama waktu berlalu yaitu tepatnya pada tahun saka 769 / 847 masehi Bhujangga Guru ditanah Jawa diperintahkan oleh penguasa Jawa mengadakan upacara Upasaksi Pemahayu Jagat (kesejahteraan Bumi) dengan upacara Pecaruan, perintah tuan ku raja ini terutama diperuntukan kepada Hyang Guru Gowar (Govar) sebagai pemimpin upacara.

Kembali dikisahkan Hyang Maha Resi Markandhya beryoga di gunung Damalung yaitu pada wilayah gunung Hyang di Jawa, setelah itu beliau melanjutkan perjalanan ke arah timur dengan tujuan melakukan prosesi Tirta Yatra tibalah beliau di gunung Raung di Jawa Timur. Entah berapa tahun lamanya beliau tinggal disana diputuskan melanjutkan perjalanan ke arah timur menuju pulau Bali sebelah timur dari pulau Jawa, di iringi oleh para murid beliau berjumlah 800 orang bertujuan untuk menyebarluaskan paham Tri Murti Paksa seperti Waisnawapaksa. 

Tidak dikisahkan dalam perjalanan akhirnya beliau tiba di gunung Tohlangkir, disana Beliau Maha Resi Markandhya bersama para pengiring/murid beliau, merabas hutan pegunungan, namun usaha beliau menemui kegagalan, lantaran para pengikut beliau banyak menninggal dunia terserang wabah penyakit. Melihat situasi yang demikian itu, beliau Maha Resi Markandhya kembali menuju pegunnungan Raung pada tempat beliau sebelumnya beryoga. Setibanya beliau Maha Resi Markandhya di gunung Raung segera melakukan tapa brata yoga semadi guna memohon keselamatan dirinya dan para murid beliau yang telang berada di pulau Bali. Setelah beliau mendapat anugrah dari Hyang Widhi Wasa, beliau bergegas meninggalkan gunung Raung menuju gunung Tohlangkir/Agung, diiringi oleh murid beliau yang berjumlah 400 orang. Tidak terkisahkan dalam perjalanan, segera beliau tiba diwilayah gunung Tohlangkir, disana beliau dijunjung serta dihormati oleh murid beliau yang terdahulu yang telah mempunyai tempat tinggal di wilayah itu . Sebagian murid beliau meninggal karena terserang wabah penyakit. Maka beliau Maha Resi Markandhya dia menanam Panca Datu ( lima jenis logam yaitu emas, perak, tembaga, besi dan perungggu ) sebagai saran penolak bala terhadap bencana yang menimpa pengikutnya dahulu yaitu di sekitar gunung Agung, beliau Maha Resi Markandhya bersama para pengikutnya membuat tempat pemukiman dan Kahyangan sebagai tempat pemujaan. 


Entah berapa tahun lamanya beliau disana, akhir beliau melanjutkan perjalanan kea rah barat, setelah tiba di suatu wilayah yang sangat luas, di lanjutkan dengan merabas hutan pada wilayah pinggiran gunung, setelah pekerjaan itu rampung, selanjutnya wilayah itu di namai Puwakan. Puwakan yang artinya di rabas pada wilayah Tegallalang. Setelah sekian lama waktunya, setelah selesai merabas hutan akhirnya wilayah itu di namai Sarwadha. Apa sebab di namai demikian? Karena segala keinginan beliau Maha Resi Markandhya dapat terwujud pada wilayah itu. Namun perkembangan selanjutnya Sarwadha lebih dikenal dengan sebutan desa Taro. Sebab di namai Taro karena lantaran dari pikiran atau kayun Maha Resi Markandhya, dengan Adnyana = pikiran/kahyun = Wreka = kayu = Tahen = Taro. Selanjutnya beliau Maha Resi Markandhya membangun Kahyangan sebagai pengingat ( penyawangan ) Pura Gunung Raung di Jawa, kahyangan itu ditempatkan/ dibangun di desa Taro, lantaran demikian Pura yang di bangun di desa Taro dinamai Pura Gunung Raung sebagai Pura penyungsungan Jagat. Setelah berlalu sekian tahun beliau Maha Resi Markandhya tinggal di desa Taro membangun kahyangan Widhi Kahyangan itu di fungsikan untuk memohon penglukatan ( pembersihan ) masyarakat semua, Kahyangan itu diberi nama Pura Puncak Payogan, lokasi di Campuhan juga di sebut Pura Gunung Lebah nama lainya.

Beliau Maha Resi Markandhya di sertai para pengiring dan muridnya dari golongan Waisnawa. Selanjutnya beliau Maha Resi Markandhya pergi menuju arah barat dari tempat beliau melakukan tapa yoga. Setibanya disana lalu beliau membangun Pura dan di beri nama Pura Murwa dan wilayah tempat di bangunya wilayah itu di namai Pa-Hyangan ( sekarang desa Payangan ), di namai demikian lantaran pada wilayah itu merupakan tempatnya Hyang, beliau mengajarkan agama Kahindon ( agama Surya Kancana ) di pulau Bali. Pada tahun saka 915 atau 993 masehi tat kala berkuasa Shri Maha Raja Gunapriya Dharmapatni Udayana Warmadewa. 

Dhyah Kuting dinobatkan sebagai Senapati Kuturan di Bali yang ditugasi untuk memelihara alam raya, selanjutnya pada tahun saka 929 atau 1007 masehi beliau Mpu Kuturan di Bali memberikan wejangan kepada sekalian murid-muridnya, "Hai kalian para muridku semua janganlah engkau lupa karena aku ingin membangu Kahyangan sebagai tempat saudaramu, jika kalian lupa akan hal ini, kalian tidak akan mendapat anugrah dari Tuhan yang Maha Esa, sebagai akibatnya kehidupan mu akan melarat, karenaTuhan sesungguhnya asal muasal manusia, wajib kalian mengetahuinya." Demikian sabda beliau. 

Selanjutnya dikisahkan penguasa Bali yaitu Shri Gunaprya Dharmapatni bersama dengan suaminya Shri Dharma Udayana Warmadewa, entah berapa lama raja suami istri berumah tangga, maka beliau melahirkan empat putra antara lain : yang paling tua bernama Shri Airlangya, adiknya Shri Marakata, anaknya yang ketiga bernama Shri Adnyadewi, dan yang paling bungsu bergelar anak Wungsu yang begitu lahir, ibunya meninggal dunia menuju alam Siwa Loka, Keraton Bali menjadi geger, termasuk di desa-desa di Bali sangat terkejut mendengar berita tentang kemangkatan ratu Bali Shri Gunaprya Dharmapatni, masyarakat berbela sungkawa lantaran ditinggal oleh ratunya, berita kemangkatan beliau sang ratu sampai terdengar kepulau Jawa, sehingga dengan demikian beliau Mpu Bharadah sebagai Bhagawanta Shri Airlangya dengan gelar Shri Dharmawangsa Wardhana Marakata Pangkaja Sthana Utunggadewa, mengutus Mpu Bahula putra dari Mpu Bharadah untuk datang ke Bali, untuk turut menyamapaikan ucapan bela sungkawa atas wafatnya sang ratu ibu beliau tahun saka 929 atau 1007 masehi, demikian seperti yang telah tersurat dalam prasasti. Karena dengan demikian maka beliau Sang Panca Tirtha juga turut datang ke Bali yaitu Mpu Genijaya, Mpu Semeru, Mpu Gana, Mpu Kuturan dan Mpu Bhradah bersama anaknya Mpu Bahula.

Terkisahkan beliau Sang Panca Tirtha tiba di Bali, khususnya Mpu Bahula yang terutama, setibanya di Bali langsung menghadap Maha Resi Markandhya. Dalam penghadapan itu Maha Resi Markandhya bersabda "Wahai engkau anakku Bahula, aku harapkan engkau segera untuk beryoga dan pada tempat itu nantinya engkau bersama pengikutmu membangun pura namailah Pura Bolo. Bolo juga berarti Bhatara Siwa. Bo artinya Pertiwi, Ula artinya Tumbuh dari tanah." Karena Pura ini dibangun Mpu Bahula, maka Kahyangan ini lebih dikenal dengan Pura Bahula oleh khalayak umum tepatnya pada tahun 930 atau 1008 masehi. Fungsi pura ini merupakan untuk memohon anugerah dalam bidang pertanian. Pura ini merupakan stana SangHyang Bolo/Siwa, Hyang Uma Dewi dan Bhatara Ghanapatya, demikian sampai akhir jaman, jangan sampai tidak menghaturkan sembah bhakti kehadapan Sanghyang Siwa, jika terlanggar akan menyebabkan kemelaraan penyungsung atau wilayah desa tersebut.

 Terkisahkan sekarang beliau, setelah Kahyangan itu selesai dibangun, lalu beliau Maha Resi Markandhya, Mpu Gana dan Mpu Bahula yang diiringi oleh para pengiringnya semua menuju arah barat daya tak terkisahkan dalam perjalanan tibalah rombongan tersebut dalam suatu wilayah yang banyak ditumbuhi pohon keliki, segera beliau bertapa, dalam yoganya itu, beliau melihat pulau Bali tersembur pancaran sinar hitam karena demikian tanda-tanda yang terpancar dalam yoganya maka segera beliau memerintahakan pengikutnya untuk membangun sebuah pura setelah kahyangan itu selesai dibangun, dinamai Pura Cemeng, sedangkan desa tempat pura itu dibangun dinamai Subali. Demikian Upakyana Purana Pura Bolo yang ada samapai sekarang di Dusun Gelagah Putih hingga sekarang.
Kesimpulan :
1.      Bahwa Jagat Tegallalang telah ada pada abad ke 9.
 2. Dengan adanya bukti peninggalan sebuah Pahryangan yaitu Pura Bolo yang ada di banjar Gelagah Putih    yang sekarang dinamai banjar Gagah, Tegallalang, Gianyar-Bali

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Yandi Tegallalang - Skyblue - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -